“Ibu, Berhentilah Membentakku!”

“Ibu, Berhentilah Membentakku!”

Setelah mengurusi keperluan rumah tangga dari pagi-pagi buta, biasanya Ibu masih harus menghadapi tingkah konyol anak-anak mereka dari siang hingga malam. Misalnya, melihat anak-anak menghabiskan waktu bertengkar dengan saudaranya, kamar anak yang berantakan, makanan yang tidak dihabiskan, dan masih banyak lagi. Bisa dibilang, seharian penuh Ibu tidak pernah berhenti bekerja.

Kondisi ini memungkinkan semua Ibu merasa kesal dan “berteriak” saat berbicara pada anak-anak mereka. Salah satunya Yvonne Condes. 

Yang mengejutkan, saat ia berteriak pada anak bungsunya yang berusia 5 tahun, Si Anak menatapnya dengan mata besar cokelatnya dan bertanya sopan, “Bolehkah Ibu tidak berteriak seperti itu lagi kepada kami?”

“Hati saya hancur mendengarnya. Aku mengerti mengapa ia mengatakan itu kepada saya. Pasti hatinya sangat sakit ketika saya meneriakinya,” kata Condes.

Saat itu Condes hanya diam dan tidak membela diri dengan mengatakan bahwa ia melakukan itu karena anaknya bermain tanpa aturan dan hanya itulah satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk membuat mereka diam. Baca Juga Tingkatkan Daya Belajar Dengan Memacu Indera Pendengar.

Setelahnya, bukannya mudah, justru sebaliknya. Tidak berteriak atau marah ketika mereka tidak bisa diatur sangatlah sulit untuk dilakukan. Setiap kali anak-anak bertengkar, Condes bertanya-tanya dalam hati, apakah saya bisa bersabar. Usai anaknya mengucapkan keinginannya (untuk tidak meneriakkinya, Red. ) apakah ia tiba-tiba jadi anak yang penurut?

“Masalahnya adalah efek kumulatif,” kata Dr Carl Alasko, psikoterapis dan penulis buku Say This, Not That: A Foolproof Guide to Interpersonal Communication . “Jika itu dilakukan sekali sehari, itu masalah. Jika dua kali seminggu, itu tetap bukan hal yang baik,” terang Alasko.

“Saya berbicara dengannya minggu lalu tentang dampak berteriak pada anak yang dapat memengaruhi hidup mereka dan apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mengontrol ‘teriakan’,” kata Condes.

Alasko menjelaskan, jika Anda berteriak pada anak dua kali seminggu itu bisa memengaruhi pengalaman hidupnya tentang Anda 100 tahun ke depan. Dan apabila itu Anda lakukan lebih dari lima tahun makan pengalaman itu akan diperpanjang hingga 500 tahun selanjutnya. “Artinya, teriakan dan kebiasan ibu berteriak akan tumbuh dan menyerap dalam hidupnya.”

Jumlah itu benar-benar menegur Condes bahwa anak-anaknya bisa menyimpan memori atau mengingatnya sebagai ibu yang dingin dan senang berteriak.

Alasko merekomendasikan solusi sederhana dan klasik untuk menghentikan kebiasan berteriak pada anak. Ketika Anda sedang kesal dan bersiap memarahi anak, tarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali. Kemudian bertanya pada diri sendiri, “Apa tujuan saya berteriak?” Dengan memikirkan hal itu, Anda tidak hanya memperlambat proses reaktif, tapi juga memikirkan harapan Anda pada mereka dan juga Anda sendiri.

Apakah Anda ingin mereka berhenti berkelahi dan menjadi anak yang saling menghargai? Apakah Anda ingin anak Anda menjadikan Anda sebagai ibu yang bijak dan lemah lembut?

Akan lebih baik jika Anda mengajak mereka diam sejenak dan mengatakan bahwa perilaku mereka sudah di luar batas. Jelaskan juga dampak negatif yang bisa mereka timbulkan jika mereka terus melakukan “keributan”. Juga, berikan pilihan kepada mereka, apa yang sebaiknya Anda lakukan jika mereka melakukan keributan atau tidak mau diatur.

Percayalah, jika Anda langsung memutuskan untuk marah dan berteriak, anak-anak tidak akan peduli dan mendengarkan Anda. Bukan itu model komunikasi yang mereka butuhkan. Tips Keluarga.

Share