6 Alasan Buruk Mempertahankan Pernikahan

6 Alasan Buruk Mempertahankan Pernikahan

Ketika kondisi pernikahan memburuk, bahkan berada di jurang kehancuran, banyak alasan dan langkah yang dilakukan untuk menyelamatkan situasi ini. Terkadang orang memilih untuk mengakhirinya demi alasan kebaikan, tapi ada pula yang memilih tetap bertahan.

Bila kedua belah pihak bersedia bekerja keras untuk memperbaikinya, kemungkinan besar pernikahan bisa terselamatkan. Namun, ada pula alasan-alasan yang sebaiknya tidak Anda pakai untuk tetap bertahan, ketika Anda tahu bahwa sebetulnya sudah tak mungkin lagi pernikahan diteruskan.

Anak

Banyak pasangan yang tidak bahagia dalam pernikahannya menggunakan alasan ini untuk bertahan. Padahal, ini bisa jadi alasan terburuk. Bila Anda berdua tidak bahagia secara terus-menerus, bagaimana bisa membesarkan dan mendidik anak dengan baik? Bagaimana bisa menghasilkan anak yang bahagia? Menyaksikan kedua orangtuanya bahagia meski berpisah akan lebih membuat anak bahagia dan hidup nyaman, ketimbang melihat mereka hidup bersama tapi selalu bertengkar. Baca juga “Ibu, Berhentilah Membentakku!”

Stabilitas uang

Anda merasa lebih takut untuk menghadapi kenyataan bahwa setelah bercerai tak ada lagi yang menafkahi dan mencukupi kebutuhan Anda dan anak-anak, ketimbang menghadapi hubungan yang penuh keterpaksaan ataukekerasan fisik yang Anda terima dari suami. Padahal, dengan perasaan yang lebih bahagia daripada sekarang, Anda akan lebih mudah untuk berpikir jernih dan mencari solusi untuk mendapatkan penghasilan. Ingat pepatah di mana ada kemauan, di situ ada jalan, kan?

Janji

Saat menikah dulu, Anda memang mengucapkan janji untuk sehidup semati. Berusaha mati-matian untuk menepati janji itu meski hidup Anda merana lantaran pasangan berkali-kali berselingkuh terang-terangan di depan Anda dan menelantarkan keluarga tentu bukan hal yang bijak.

Perasaan bersalah

Seringkali, perempuan merasa tak tega meninggalkan suaminya karena khawatir memikirkan bagaimana kelak hidup suaminya setelah bercerai. Padahal, sang suami mungkin sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga yang selalu ia ulangi meski saat meminta maaf seolah berniat tobat. Atau, perempuan memikirkan pendapat dan tudingan masyarakat di sekitarnya atau kelak hidup anaknya akan menderita bila ia bercerai. Seperti halnya pernikahan, hidup Anda pribadi juga sangat penting untuk dipikirkan. Anda tak ingin jadi martir dalam pernikahan, bukan?

Takut

Tak sedikit perempuan yang merasa tidak akan mampu menghadapi berbagai masalah yang akan datang bila kelak bercerai. Padahal, masalah pernikahannya bisa jadi lebih rumit. Satu-satunya jalan untuk mengatasinya adalah menghadapi langsung masalah-masalah tersebut. Ini akan membentuk Anda menjadi pribadi yang kuat dan tegar. Toh, Anda sudah pernah mengalami hal yang juga sangat berat dalam hidup Anda, yaitu bercerai, dan Anda masih tetap baik-baik saja.

Sendiri

Hidup sendiri setelah sekian lama menikah terkadang dianggap menakutkan bagi sebagian orang. Anda merasa tak sanggup hidup sendirian sehingga memilih bertahan meski menjalani keseharian dengan penuh keterpaksaan.

Lebih baik Anda fokus pada hubungan Anda dengan orang lain di luar suami, antara lain dengan teman, anak, keluarga besar, atau rekan kerja. Dengan sendirinya Anda akan menemukan kenyataan bahwa masih banyak orang dalam kehidupan Anda yang selalu bersedia membantu, menemani, dan mendukung Anda dalam banyak hal. Jadi, mengapa harus takut? Tips Keluarga.

Share